Senin, 24 September 2007
bea siswa
humanisme
Kamis, 20 September 2007
Politik Sebagai Industri

“Segala tindakan yang menyangkut hak orang-orang lain yang maksimnya tak sesuai dengan kepublikan adalah tak adil.” ( Immanuel Kant )
Dewasa ini politik tak lagi sebagai sebuah proses yang mengasyikan, kejadian yang bahkan dahsyat, agung dan cerdas. Dalam lakunya politik lebih serupa lakon sebuah pasar. Pasar sebagaimana kita ketahui adalah tempat manusia saling bertukar; ada pembeli, ada penjual. Ruang dimana negoisasi dibangun dalam kalkulasi untung-rugi. Dan mereka yang kemudian kita kenali sebagai aktor politik tak lebih dan tak kurang tampak cuma jadi sebuah produk yang di siap di dagangkan.
Disetiapkali menjelang pemilu, mereka yang kita kenali sebagai politisi itu berlomba-lomba membangun citranya masing-masing, menyusun strategi kampanye yang lebih mirip dengan strategi marketing; melakukan promosi, membangun brand image, berusaha mengugah awarness pemilih yang menurut Popkin rasionalitasnya bersandarkan pada informasi terbatas “low information rationality”, dan memang terkadang hanya bersumber dari tampilan permukaan iklan kampanye politik calon di media yang tampak konyol dan mengelikan.
Dengan iklan mereka tak hanya dapat melakukan perjumpaan dengan mereka yang terlampau banyak itu, namun dengan iklan mereka mampu memanipulasi diri agar tampak baik dan mengagumkan. Dan agaknya sebab itu pula, dalam penampilan mereka di iklan-iklan, para politisi itu tak menjual programnya, tapi bagaimana menampilakan citra yang baik, dalam durasi beberapa menit. Pesan-pesan politiknya dibuat sesingkat mungkin, supaya dapat mempengaruhi kesadaran para pemilih yang mengambil kesimpulan berdasar low information rationality.
Pemilih yang tak tersadarkan itu, kemudian seperti kehilangan kemampuan untuk menseleksi calon dengan benar. Orang tak lagi terusik untuk mengetahui apakah calon A memiliki pengetahuan yang begitu dalam tentang angka kemiskinan dan statistic perbandingan pengangguran tahun lalu dan tahun ini. Orang lebih menyukai apakah calon B pandai bernyanyi lagu dari band Zamrut atau bergoyang patah-patah. Bagi ibu-ibu dan kaum perempuan lainnya perbandingan terletak siapa yang paling ganteng diantara calon A atau calon B.
Lalu kesimpulan disusun; ternyata rakyat tak selamanya terdiri dari individu-individu yang rasional, tapi terkadang irasional, didalam kampanye pemilihan kepala daerah, mereka tampak lebih mirip fan. Pemuja para idola yang bersedia berbuat apa saja—terkadang sekedar ingin mendapatkan tanda tangannya—mereka tidak rasional. Politik hari ini adalah pemujaan pada idola, saya suka colan A karena dia ganteng, modis dan rapi. Barangkali sebab itu, para calon kemudian berlomba-lomba mencitrakan diri seperti keinginan pemujanya. Calon tak lagi dipilih karena mereka cerdas atau berbudi luhur, tapi karena mereka mengoda. Rakyat, dalam menentukan pilihan politik mereka, hanya menyenangi ucapan-capan yang bergelora dari mereka yang tampak memikat. Kampanye bukan lagi perlombaan antar program kerja, yang berlangsung adalah sebuah lomba penampilan pribadi.
Politik kemudian tampak lebih mirip sinetron. Semua berebut memerankan karakter protagonis—karakter yang lemah, tak berdaya dan selalu dianiaya—karena akan banyak mendapatkan simpatik penonton. Lihatlah bagaimana kisah SBY yang naik tahta setelah diberitakan diniaya. Tak dilibatkan dalam rapat, disebut jenderal anak-anak. Pada pemilihan presiden itu, ia mendapat simpati, dan ia menang. Begitulah politik kita hari ini, siapa yang tampil paling memukau, dialah yang dielu-elukan.
Dan Richard Nixon, mantan presiden Amerika yang mungkin kurang cerdas itu, benar, ketika mengatakan “Politik itu puisi.” Puisi tak mesti melulu ekspresi dari kejujuran, ia bisa juga sebuah upaya yang mengetarkan; sesuatu yang dapat membangkitkan gelora hati. Dengan politik, pernyataan-pernyataan tak usaha cocok 100% dengan fakta—seperti halnya puisi—ia harus bisa mempesona. Politik memang sebuah upaya mengugah, terutama ketika kampanye ramai dan politikus datang dan pergi seperti tukang obat keliling, lalu masyarakat yang punya hak suara diajak untuk membel” apa saja yang ditawarkan, termasuk yang menjengkelkan sekalipun.
Tapi agaknya disinilah persoalanya; kita telah menjadi konsumen, dan politik tak ubanya sebuah industri. Ya… industri telah melahirkan anaknya; budaya pop, dan kita tak mampu mengelak. Kesadaran kita dibangun oleh media yang mendorong kita bersemangat konsumerisme, sehingga membeli komoditas yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Dan politik lebih sering berupa sebagian hidup sehari-hari yang remeh-temeh, mungkin juga norak.
Politik tak lagi mengenal teori demokrasi klasik tentang volonte generale (kehendak umum), sebuah keputusan publik yang mencerminkan kepentingan seluruh rakyat. Politik tak lagi menyediakan ruang bersama. Sebuah ruang yang disebut Juergen Habermas sebagai ruang publik politis, ruang dimana kondisi-kondisi komunikasi yang memungkinkan warga negara membentuk opini dan kehendak bersama secara diskursif, suatu lingkup bagi suatu "aku" untuk menyatakan “kesiapaannya” di hadapan suatu “kamu” sehingga suatu tindakan bersama suatu “kita” menjadi mungkin, katakan Hannah Arendt.
Politik yang menjadi industri adalah politik yang tak mengenal konsep “Kita”. Kita—mengutif Chairil Anwar dalam salah satu puisinya—kesendirian masing-masing. Aku adalah konsumen dan mereka tak lain adalah produk, sekaligus produsen yang mempengaruhi kesadaran “aku”. Dalam relasi semacam ini politik akhirnya adalah sebuah tawar menawar yang mengesalkan—sebuah proses yang bisa di gerakan oleh manipulasi, tanpa rasa malu, bosan ataupun geli. Bila kemudian ada yang merasa ditipu, harap maklum, sebab, inilah konsekuensi dari politik yang telah menjadi industri.
Industri sabagaimana diyakini kaum kiri adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kapitalisme, ia dalam kata-kata Prancis yang sangat terkenal itu; “ I’exploitation de l’homme par’lhomme “ (pengisapan manusia oleh manusia). Atau memang karena politik kekuasan selalu akrab dan bersahabat dengan mereka yang suka menjual rohnya pada setan, juga keserakahan, hingga acapkali suka mengutif kata-kata Giambattista Vico dari Abad ke-18 Italia: Justru dari kebengsian, kebakhilan, dan ambisi manusia, telah lahir banyak hal yang baik di dunia.***